Perempuan dan Kebebasannya dalam Islam

Sumber : abdullahmbrk9.blogspot.com
Sumber: abdullahmbrk9.blogspot.com

Islaminesia.com -Ketika berbicara tentang perempuan, meniscayakan pula membicarakan tentang manusia. Pemahaman mengenai kedudukan-kedudukan kaum perempuan menjadi salah satu fokusan dalam Islam. Islam sebagai salah satu agama samawi, sangat memuliakan perempuan dan memberikan perhatian dan perlakuan dengan bijak dan bajik. Tradisi-tradisi yang tidak baik, coba dihapuskan oleh Islam dengan melakukan reformasi  dari konstitusi dan rehabilitasi nilai-nilai kaum perempuan dengan memberikan kepada mereka hak-hak material dan moral melalui gaya yang bijak dan moderat, bukan dengan gaya lalai dan berlebihan. Laki-laki dan perempuan mencoba ditempatkan dalam konsep-konsep prinsip yang manusiawi. Dengan demikian, Islam hadir dan membatalkan seluruh pernyataan naif tentang perempuan sejarah pra islam (era jahiliyah), bahwa perempuan sebagai pihak yang tertindas oleh kaum laki-laki. Begitupula dalam wilayah kebebasan perempuan. Allah SWT berfirman “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.” (Q.S Al Hujuraat: 13)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S An-Nahl : 97)

Laki-laki dan perempuan yang sejatinya merupakan manusia, diciptakan dengan kemerdekaan dan kebebasan masing-masing. Kecenderungan terhadap kebebasan adalah keinginan yang wajar dan diperbolehkan. Namun, apakah manusia bisa hidup dengan bebas dalam suatu masyarakat?

Sebagai makhluk sosial, untuk hidup bebas dalam sebuah masyarakat harus memerhatikan dan menjaga hak-hak, dan kebebasan-kebebasan diri dalam batasan undang-undang sosial. Batasan tersebut tidak merugikan manusia, tetapi justru bermanfaat bagi dirinya. Hal ini juga agar kebebasan yang ada pada masing-masing manusia tidak berarah menjadi kebablasan yang akan merugikan manusia itu sendiri.

Begitupula dalam Islam, bahwa menghormati hak dan kebebasan manusia adalah dengan tidak mengabaikan kemaslahatan-kemaslahatan baik individu maupun sosial. Islam mensyariatkan hukum-hukum dan undang-undang yang membatasi kebebasan manusia untuk menjaga kemaslahatan-kemaslahatan laki-laki dan perempuan, baik secara fisik maupun jiwa, dunia maupun akhirat, serta individu maupun sosial.

Berkenaan dengan kebebasan perempuan, Islam pun menghargai dan menghormati kebebasan kaum perempuan dengan menjaganya melalui undang-undangnya, sehingga kebebasan yang ada tidak bertentangan dengan kemashalatan riilnya sebagai perempuan dan kemaslahatan masyarakat. Namun, apabila kebebasan itu tidak sesuai dengan kemaslahatan-kemaslahatan maka Islam lebih menekankan batasan. Secara garis besar Ibrahim Amini menggarisbawahi kebebasan perempuan dalam Islam.

1. Kebebasan dalam Pekerjaan

Rasulullah SAW bersabda “Ibadah ada 70 bagian dan yang paling utama adalah mencari rejeki yang halal. Sayyid Musa bin Ja’far berkata “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla sangat membenci hamba yang selalu tidur dan pengangguran.”

Menurut perspektif Islam, bekerja merupakan tugas bukanlah sebuah hak. Perempuan juga harus melaksanakan tugasnya dalam hal-hal sosial dan bebas memilih perkerjaan. Sekali lagi yang tidak bertentangan dengan hukum-hukum dan aturan yang disyariatkan, dan yang paling penting dalam kebebasan memilih pekerjaan, dengan bekerja perempuan tidak boleh mengguncangkan fondasi keluarga dan tidak menghilangkan kasih sayang, simpati, dan tugas sebagai ibu serta pendidikan yang benar terhadap anak-anaknya.

2. Kebebasan dalam Memilih Pasangan (menikah)

Perempuan bebas memilih dan menentukan pasangan hidup. Tidak seorangpun yang berhak memaksa seorang perempuan untuk menikah atau memilih pasangan, baik itu ayah, ibu, kakek, dan saudaranya. Ja’far Shadiq berkata “Hendaknya mereka memperoleh izin dari perempuan perawan dan bukan perawan dalam pernikahan.” Dan pernikahan tanpa kerelaannya adalah tidak benar.” Oleh karena itu, sahnya pernikahan persetujuan perempuan itu perlu. Berkenaan dengan izin seorang ayah atau kakek perempuan yang pernah menikah sebelumnya tidak perlu meminta persetujuan ayah apabila tidak ada masalah baginya untuk menikah lagi. Sedangkan untuk perempuan yang belum pernah menikah sebelumya (read: belum berpengalaman), izin dari seorang ayah diperlukan untuk memberikan arahan-arahan yang terbaik kepada putrinya, sebab ayahnya lebih mengetahui sentimen (perasaan) lelaki, dan memiliki beberapa kualifikasi. Tentunya seorang ayah menginginkan kebaikan dan kebahagiaan bagi anak perempuannya. Dan persetujuan seorang ayah atau kakek dalam hal ini dikecualikan, apabila dalam memperoleh izinnya mereka mengemukakan alasan-alasan yang tidak tepat.

3. Kebebasan dalam Mencari Ilmu

Salah satu yang dibutuhkan dalam kehidupan adalah ilmu pengetahuan, baik perempuan maupun laki-laki dalam hal ini manusia bebas menentukan pilihan untuk mencari ilmu. Apabila perempuan belum bersuami maka dia bisa mencari ilmu dan tidak seorangpun yang bisa mencegahnya. Namun, apabila dia memiliki anak dan suami , maka tentunya harus mengomunikasikan dan memusyawarahkan kepada suami dan anak, demi menjaga hak-hak mereka.

4. Kebebasan dalam Memilih Tempat Tinggal

Jika perempuan tidak memiliki suami, maka dia bebas dalam memilih tempat tinggal. Namun apabila dia memiliki suami, maka dia harus mengikuti suami dalam memilih tempat tinggal. Menyediakan tempat tinggal adalah tanggungjawab suami dan salah satu otoritasnya. Dalam hal ini, tempat tinggal tersebut sesuai dengan keadaan keluarga, kemampuan finansial yang menjamin keamanan dan ketentraman keluarga.

Allah SWT berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut…”(Q.S An-Nisa :19)

“Dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan mereka …”(Q.S Ath-Thalaq: 56).

Kendatipun memilih tempat tinggal adalah otoritas laki-laki, tetapi perempuan bisa menyarankan tempat tinggal khusus dalam akad nikah atau menjadikannya sebagai otoritas. Apabila suami menerima, maka dia harus mengikuti istri dan apabila dia melanggar, maka dia berdosa.

Kebebasan perempuan dalam Islam tidak terlepas dari fakta bahwa islam menyadarkan dan mengakrabkan perempuan mengenai kedudukannya, memberinya individualitas, kemerdekaan dan kemandiriannya. Islam tidak pernah meyakinkan perempuan untuk memberontak melawan atau sinis terhadap laki-laki. Islam mengakui hak-hak natural keduanya, dan memandang mereka sebagai  individu dengan kemerdekaan berpikir dan bertindak. (AJM/JN)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.