Haji: Ibadah Ritual Berbagai Dimensi

sumber: www.republika.co.id

sumber: www.republika.co.id

Islaminesia.com—Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan kaum Muslimin sekali seumur hidupnya bila mampu. Ibadah ini bukan saja memberikan nuansa spiritual dalam diri manusia, tapi juga memberikan makna sosial yang begitu kuat. Sejatinya memang, pengertian ibadah tidak hanya dimaknai secara intrinsik saja, tetapi juga mengandung makna praktis. Karena ibadah bisa dilihat sebagai media pengembangan pendidikan pribadi dan kelompok ke arah komitmen dan pengikatan batin pada tingkah laku yang akhlaki. Dengan ibadah inilah seseorang yang beriman memupuk dan menumbuhkan kesadaran individual dan kolektifnya akan tugas pribadi dan sosialnya dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sebaik-baiknya di dunia.

Annemarie Schimmel menyebutkan bahwa haji merujuk pada perjalanan tanpa henti dari jiwa menuju Tuhan. Haji merupakan ritual ziarah Ka’bah dan kegiatan manasik yang dilakukan di sepanjang abad dan masa, dalam berbagai macam dan bentuknya. Ka’bah merupakan titik pusat pertama yang menarik para ahli ibadah menuju Allah SWT. Allah berfirman:

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 96-97)

Ka’bah merupakan rumah pertama yang digunakan untuk beribadah dan menyembah Allah SWT. Dibangun dengan tujuan memberikan hidayah kepada seluruh umat manusia dan mengandungi banyak berkah. Oleh karena itu, sejak zaman dahulu kala, para penyembah berhala dari semua bangsa telah menghormati Ka’bah—lantaran berbagai faktor, mereka yakin bahwa menghormati Ka’bah adalah sebuah kewajiban.

Bagi kaum Muslimin, haji merupakan peristiwa yang sangat dirindukan. Sebuah peristiwa yang merupakan jalan menuju kesempurnaan ibadah. Di sinilah mereka saling berjanji untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Sebagaimana Ali Syariati katakan, “Begitu engkau memutuskan untuk menunaikan ibadah haji sudah seharusnya engkau mengambil langkah-langkah yang perlu. Sebab ibadah haji adalah antitesis dari ketidakbertujuan dan merupakan pemberontakan melawan nasib buruk.

Fenomena haji memang menarik diamati, karena meskipun dalam situasi krisis melanda, baik krisis moral maupun krisis ekonomi. Namun peminatnya terus meningkat sepanjang tahun, terlepas dari motivasi yang melatarbelakanginya.

Dalam dunia yang sedang sekarat—karena krisis multidimensi, dengan dorongan fitrahnya, manusia seringkali menemukan kesadaran untuk kembali meraih dimensi yang selama ini hilang. Dimensi ketuhanan yang memberikan manusia kemampuan untuk merasakan kebahagiaan spiritual. William James, seorang psikolog terkemuka abad 20, dalam sebuah bukunya Varieties of Religious Experiences menyatakan sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan menemukan kepuasan kecuali ia bersahabat dengan Kawan Yang Agung. Tentu Kawan Yang Agung yang dimaksudkan itu adalah Tuhan. Ia juga menambahkan bahwa meskipun manusia memiliki banyak teman, relasi, berada dalam keramaian aktivitasnya, selama ia tidak berkawan dengan Yang Agung, maka selama itu pula ia akan merasakan kesepian, kekosongan dan kehampaan.

Sesungguhnya, haji merupakan latihan untuk kembali kepadaNya. Haji adalah latihan kematian, karena kita meninggalkan tanah air, meninggalkan keluarga, meninggalkan kerabat dengan niat yang satu ingin menemui Allah SWT. Haji adalah perjalanan ruhani dari rumah-rumah yang selama ini mengungkung manusia menuju Tuhan. Karena itu, haji yang mabrur adalah haji yang berhasil mencampakkan sifat-sifat hewaniah dan menyerap sifat-sifat rabbaniyyah.

Dalam manasik keluarga Nabi SAW, yang sangat utama adalah kesanggupan meninggalkan rumah-rumah kita yang kotor agar dapat beristirahat di rumah Allah yang suci. Bila mampu dan berhasil, berarti anda Mabrur. Negeri ini butuh para haji yang mabrur dan bukan haji yang hanya mengejar prestise dan pamer kekayaan di tengah-tengah masyarakat.

Pada dimensi lain, haji menjadi tempat menyaksikan berbagai manfaat buat mereka dan berzikir (menyebut nama Allah) pada hari-hari yang ditentukan (QS. Al-Hajj: 28). Menurut para mufassir, ayat ini menyebutkan dua dimensi haji: dimensi manfaat dan dimensi zikir. Al-Thabari, dalam tafsirnya, menyebut manfaat itu meliputi dunia dan akhirat. Mahmud Syaltut, Syeikh Al-Azhar, menyebut dimensi-dimensi IPOLEKSOSBUD sebagai kandungan makna “manfaat”. Saat berhajilah, kata Syaltut, bertemu para pemikir dan ilmuwan, ahli-ahli pendidikan dan kebudayaan, para negarawan dan ahli pemerintahan, ahli-ahli ekonomi, para ulama dan juga para ahli militer kaum Muslim.

Inilah pertemuan umat manusia yang terbesar untuk menunjukkan kebesaran Islam. Hal inilah yang dimaksudkan sebagai ritual yang berdimensi politik. Sekiranya perspektif seperti itu yang digunakan dalam melihat ritual haji ini, maka  bisa dibayangkan bagaimana kekuatan kaum Muslimin yang berhimpun di suatu tempat dan berasal dari berbagai daerah di seluruh penjuru dunia ini, lalu menyatukan persepsi dan pandangannya, serta langkah-langkah yang akan diambil  dalam menghadapi kezaliman musuh-musuh Islam di berbagai belahan dunia, maka efeknya tentu akan sangat besar.

Kalau saja hal itu bisa terwujud, maka tentara-tentara penindas seperti Israel tidak akan mungkin berani melakukan agresi dan penindasan di Palestina seperti sekarang ini. Kekuatan Islam akan sangat diperhitungkan dalam percaturan dunia. Tapi, tengoklah apa yang terjadi saat ini. Islam dan kaum Muslimin tidak begitu diperhitungkan oleh musuh-musuh Islam. Negara-negara Islam atau yang mayoritas penduduknya Muslim, dengan mudah dipermainkan dan dipolitisir, bahkan terkadang dengan gampang diadu domba di antara sesama kaum muslimin.

Nabi kita Muhammad SAW pada 10 Zulhijjah tahun 10 Hijriah di Haji Wada’ atau Haji Perpisahan, memberikan pesan yang sangat penting. Dalam khutbahnya Nabi berkata: “Wahai manusia, dengarkan pembicaraanku, karena barangkali aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini. Yang hadir sekarang ini hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir. Hai hadirin, tahukah kamu hari apakah ini?” “Hari yang suci,” jawab yang hadir. “Bulan apakah ini?” “Bulan yang suci.” “Negeri apakah ini?” “Negeri yang suci.” “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya seperti hari ini pada bulan ini di negeri ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya, tidak boleh dirampas hartanya, dan tidak boleh dicemarkan kehormatannya.

Itulah pesan sakral dari ibadah haji yang sering dilupakan kaum Muslimin. Padahal pesan tersebut tidak hanya berlaku bagi mereka yang telah menunaikan haji, tetapi berlaku umum kepada seluruh umat Islam. Dan sudah semestinya, seorang yang berhaji adalah manusia yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya.

Akhirnya, rombongan jamaah haji saat ini bisa dimaknai sebagai salah satu dari pengejawantahan kerinduan manusia modern terhadap Allah yang diartikulasikan dengan pelaksanaan ibadah ini. Demikianlah, haji adalah oase spiritual yang memenuhi dahaga ruhani manusia modern saat ini. Semoga calon jamaah haji Indonesia yang berangkat kali ini dapat mereguk air dari oase tersebut dan kembali sebagai insan-insan perubahan yang memiliki komitmen spiritual dan kemanusiaan. Wallahu a’lam bisshawab(Redaksi)

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

One Response to "Haji: Ibadah Ritual Berbagai Dimensi"

  1. Eldora  27 Mei 2016 at 8:35 pm

    I might be beaintg a dead horse, but thank you for posting this!

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published.