“Memerdekakan Kaum Mustadh’afin”, Sudahkah Jadi Perhatian Dua Muktamar?

0a98cabdd2e1d633e7169b5da25d798d_XLIslaminesia.com–NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar di negeri ini, sebentar lagi akan merampungkan perhelatan akbarnya dalam muktamarnya masing-masing. Sebagai ormas dengan jumlah pengikut terbesar, tidak berlebihan bila dikatakan memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam dan masyarakat Indonesia secara umum. Salah satu hal yang sangat krusial yang seringkali luput dari sorotan dan perhatian dari berbagai komponen, termasuk di dalamnya ormas-ormas Islam adalah kemerdekaan bagi kaum mustadh’afin.

Padahal, di antara misi terpenting Islam, bahkan di antara major themes of Al-Quran seperti disebutkan oleh Fazlur Rahman, adalah membela, menyelamatkan, membebaskan, melindungi dan memuliakan kelompok dhuafa atau mustadh’afin. Istilah mustadh’af berasal dari akar kata dha’fun yang berarti lemah. Dalam Al-Quran, selain istilah ini, dipergunakan istilah lain yang sejenis, yaitu dhu’afa (dhaif), berarti orang yang lemah, baik karena dilemahkan orang lain maupun karena dirinya sendiri memang lemah. Dalam terjemahan bahasa Inggris, mustadh’afin kadang-kadang diterjemahkan sebagai the oppressed (yang tertindas). Sedang dhu’afa biasa diterjemahkan dengan the weak (orang-orang yang lemah).

Di dalam Al-Quran, banyak sekali dikisahkan tentang perjuangan kelompok mustadh’afin ini. Bagaimana Nabi Ibrahim as menentang Raja Namrud, Nabi Musa as membela kaum mustadh’afin dan selalu menentang istana, begitu pula Nabi Nuh as dan Rasulullah SAW.  Sepanjang hidupnya, Rasulullah selalu berpihak kepada kelompok-kelompok lemah. Kepada sahabat-sahabatnya yang menanyakan tempat yang paling baik untuk menemuinya, beliau menjawab: “Carilah aku di antara orang-orang yang lemah di antara kamu. Carilah aku di tengah-tengah kelompok kecil di antara kamu.” Rasulullah pun menasihatkan supaya para ulama melanjutkan para nabi – selalu berada di tengah-tengah kelompok dhu’afa dan mustadh’afin. Beliau bersabda, “Taatilah kaum ulama selama mereka belum mengikuti hawa nafsunya.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa tanda ulama yang mengikuti hawa nafsunya?” “Mereka senang mengikuti sultan.” Dalam hadis riwayat Al-Haitami dikatakan, “Mereka meninggalkan kelompok fuqara dan masakin dan mengetuk pintu-pintu para sultan.” Dalam konteks ini, Dr. Ali Syariati membagi kelompok Nabi menjadi dua. Nabi-nabi Ibrahimiah dan nabi-nabi non Ibrahimiah. Perbedaan di antara keduanya adalah nabi-nabi non Ibrahimiah berasal dari lingkungan istana, sedang nabi-nabi Ibrahimiah, sebaliknya, berasal dari rakyat biasa, berkhotbah di kalangan rakyat jelata dan pengikut-pengikut pertama mereka juga berasal dari kelompok rakyat biasa/jelata.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Qashash ayat  5, “Dan Kami bermaksud memberikan karunia kepada orang-orang yang ditindas di bumi. Akan Kami jadikan mereka pemimpin dan pewaris bumi ini.”

Al-Quran Al-Karim berbicara tentang kewajiban membebaskan kaum mustadh’afin, menyantuni anak yatim, fuqara dan masakin, membela budak-budak belian, para tawanan dan siapa saja yang mengalami penderitaan. Dalam Islam, Tuhan muncul tidak di belakang para raja dan penguasa, tetapi di samping mereka yang tertindas. Dia bukan Rabbul Mustakbirin. Akan tetapi, Dia Rabbul Mustadh’afin. Allah SWT sekali lagi berfirman, “Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas seluruh timur bumi dan seluruh baratnya yang telah Kami berkati.” Allah mengutus para rasul bukan semata-mata untuk amar makruf nahi mungkar atau mengajak akan syariat saja, tetapi juga melepaskan beban penderitaan dan belenggu-belenggu yang ada di atas mereka. Tuhan melukiskan sejarah manusia sebagai gerakan kaum mustadh’afin di bawah pimpinan para rasul melawan mustakbirin.

Di tengah-tengah suatu bangsa, saat orang-orang kaya hidup mewah di atas penderitaan orang-orang miskin, ketika budak-budak belian merintih dalam belenggu tuan-tuannya, saat para penguasa menzalimi orang-orang tak berdaya hanya untuk kepentingannya, saat para hakim memihak pemilik kekayaan dan memasukkan ke penjara orang-orang kecil yang tidak berdosa, Rasulullah SAW sebagai pemimpin kaum tertindas menyampaikan pesan dari Allah, Rabbul Mustadh’afin seperti pada surah An-Nisa ayat 75, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak, yang semuanya berdoa: Ya Tuhan kami, keluarkan kami dari negeri yang zalim penduduknya ini, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.”

Berkaitan dengan uraian di atas, maka pada konteks seperti sekarang ini, kita menantikan peran aktif dari ormas-ormas dan lembaga-lembaga Islam untuk menjadikan agenda prioritas organisasinya dalam memperjuangkan kemerdekaan kaum mustadh’afin. Kita juga merindukan kehadiran pemimpin umat yang memperhatikan derita mereka yang tertindas, yang siap menghadapi berbagai kesulitan dan resiko atas pemihakannya. Dan sejatinya, NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terbesar beserta para tokohnya, mestinya mampu menjalankan peran tersebut. Karena hanya dengan begitu, keduanya baru dapat merepresentasikan nilai-nilai ajaran Islam, sekaligus mencontohkan kepribadian Rasulullah SAW sebagai pemimpin kaum lemah dan kaum tertindas. Wallahu a’lam bisshawab. (Redaksi)

 

Berikan Tanggapan Anda

komentar untuk artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.